Memaknai Ungkapan “Kegagalan Adalah Sukses Yang Tertunda”

March 19, 2013 No Comments »
Memaknai Ungkapan “Kegagalan Adalah Sukses Yang Tertunda”

Dalam beberapa kali kesempatan membaca buku, melihat kesuksesan seseorang dalam suatu hal, mendengar kesuksesan seorang teman, merasakan aura kesuksesan seorang sahabat, apapun bentuk kesuksesan itu aku mengambil kesimpulan bahwa mereka memiliki satu kata kunci yaitu semangat berjuang atau semangat bekerja keras, atau kalimat dan kata yang semakna dengan itu. Dan mungkin sekali mereka menancapkan dalam hatinya jargon “kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda”.

Makna yang terkandung dalam kalimat “kesuksesan adalah sukses yang tertunda” ternyata memiliki makna yang sangat dalam. Kalimat itu memiliki makna bahwa kita tidak boleh mengatakan kegagalan yang kita alami sebagai kegagalan tetapi sebuah proses menuju sebuah kesuksesan. Ibarat tangga, maka itu adalah tahapan yang harus kita lalui sebelum mencapai puncak tujuan tangga itu.

Sehingga, dalam kamus para pejuang yang ingin meraih sukses itu mungkin sama sekali tidak ada istilah gagal. Karena ketika mereka mengatakan gagal, itu berarti perjalanan mereka berhenti dan mereka harus mengulanginya lagi dari awal. Dan kalimat tersembunyi lainnya yang bisa ditarik dari jargon popular tersebut adalah bahwa sebenarnya kesuksesan itu juga tidak boleh kita pahami sebagai sebuah posisi puncak, yang berarti adalah sudah tidak ada lagi tempat yang lebih tinggi dari kedudukan puncak sukses kita tersebut. Artinya, kita tidak boleh cepat merasa puas dengan kesuksesan yang telah kita raih dan mengiranya sudah tidak ada puncak lagi.

Sebagai seorang pelajar/mahasiswa, seringkali berpikir bahwa proses belajar ini akan berakhir. Ketika kita SD, kita merasa bahwa setelah selesai SD maka berarti belajar sudah selesai, padahal belum apa-apa. Masih ada SMP dan SMU. Ketika kita kuliah di perguruan tinggi seolah pendidikan hanya berakhir di strata 1 (S1), padahal masih ada Pasca Sarjana-Master-S2, dan S3 atau Doktoral. Dan sebagian orang pun, ketika mereka punya cita-cita memperoleh gelar S3 dan ternyata dia berhasil, apabila seseorang tersebut menyatakan bahwa puncak pendidikan adalah gelar Doktor, maka sebenarnya dia telah tertipu dengan kesuksesan. Setelah dia meraih gelar doktoralnya itu, dia akan merasa hampa. Kenapa? Karena dia telah merasa di puncak yang sudah tidak ada lagi tempat yang lebih tinggi selain itu. Sedangkan “belajar itu dari mulai buaian hingga liang lahat”.

Thomas Alva Edison konon sebelum menemukan temuannya tentang lampu atau listrik, dia mengatakan bahwa percobaannya menemukan lampu itu setelah mengalami kegagalan sebanyak 9999 kali. Baru setelah yang ke sepuluh ribu, dia berhasil menemukan temuannya. Seandainya dia berpikir untuk berhenti pada percobaan yang ke 9998-nya, lantas apa yang akan terjadi? Mungkin saja dia tidak akan menemukan lampu dan listrik tidak sampai kepada kita. Itu artinya, Alva Edison tidak berpikir pada percobaan ke-berapa dia akan menemukan temuannya tersebut. Dalam sebuah surat kabar, dia mengatakan bahwa 9999 kali kegagalan percobaanya itu ternyata mengandung pelajaran yang bisa ia gunakan untuk menemukan jalan menemukan lampu.

Makna terakhir dari jargon “kegagalan adalah sukses yang tertunda” adalah bahwa jalan kesuksesan tiap individu itu berbeda-beda dan merupakan rahasia. Kita jangan memiliki perasaan bahwa kesuksesan seseorang bisa diikuti dengan mengekor cara suksesnya seseorang yang lain karena tiap orang memiliki gayanya masing-masing.

Sumber: http://ahmedfikreatif.wordpress.com/2010/01/28/memaknai-ungkapan-kegagalan-adalah-sukses-yang-tertunda/

Leave A Response

Rimons twitter widget by Rimon Habib