Mengambil Resiko: Kenapa Takut?

August 31, 2013 No Comments »
Mengambil Resiko: Kenapa Takut?

”dengan menghindari resiko maka kita sebenarnya mempertaruhkan apa yang terpenting dalam kehidupan:pencapaian menuju pertumbuhan, potensi kita, dan kontribusi sebenarnya kepada suatu tujuan umum, (Marx de Pree).

Kali ini, saya ingin mengangkat salah satu karakterisitik yang umumnya dimiliki para pemimpin yang sukses dalam pelbagai bidang, yakni keberanian mengambil resiko. Poin ini penting bagi siapa saja yang ingin menumbuhkan kapasitas kepemimpinan dalam dirinya. Dalam suatu kesempatan, Jusuf Kalla (mantan wakil presiden) berkata demikian“Kalau tidak mau ambil resiko, berhentilah jadi pemimpin,”.Kalla paham betul bahwa tanpa keberanian mengambil resiko, banyak peluang yang bakal terlewatkan. Dengan kata lain, Kalla mau menegaskan bahwa Seorang pemimpin adalah risk taker, seorang yang berani mengambil resiko.

Dalam ilmu kepemimpinan diajarkan juga bahwa mengambil resiko merupakan bagian dari ciri-ciri kepemimpinan. Orang yang takut mengambil resiko, sebetulnya pengecut yang tidak mau melihat peluang lain yang ada di depanya. Saya punya satu pengalaman soal keberanian mengambil resiko tadi. Waktu pemilihan umum (Pemilu) 2009, saya ikut mencalonkan diri sebagai calon anggota DPR RI dari Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKP Indonesia), dengan nomor urut 1 (satu) dari daerah pemilihan NTT I (Flores, Alor, Lembata). Banyak teman yang dukung, salut dengan keberanian saya. Namun, diantara dukungan dan pujian tersebut, ada yang bertanya kepada saya apakah tidak takut dengan resiko kalah? Kekhwatiran itu saya paham, karena banyaknya berita yang muncul baik di surat kabar maupun TV, banyak calon entah kepala daerah atau legislatif yang stress, bunuh diri, masuk rumah sakit jiwa setelah gagal dalam pertarungan. Saya katakan, tidak. Saya cukup kuat untuk itu. Sudah terlatih, terbiasa menghadapi kegagalan. Banyak hal dalam hidup kita yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Apalagi saya masih muda, masih ada kesempatan di depan. Singkat cerita, saya menjalani kampanye. Hasilnya saya gagal karena suara PKP Indonesia tidak mencapai 2,5 persen suara, sebagai syarat untuk disertakan dalam perhitungan kursi khusus untuk calon anggota DPR. Kecewa, sakit hati? Pasti. Bohong kalau tidak demikian. Tapi kekecewaan tersebut tidak berlangsung lama. Setelah melihat ulang proses, mulai dari tahap pencalonan sampai pencalonan dan masa kampanye, banyak pelajaran yang didapat; diantaranya soal bagaimana melakukan lobby, mempengaruhi, meyakinkan orang, berbicara di depan massa maupun kelompok kecil,menghadapi banyak orang yang datang, inisiatif, kesabaran, menahan diri, menjaga sikap positif, optimis, senyum, kearifan, kerendahan hati, keteguhan untuk terus berjuang, lebih menghargai orang lain. Saya juga mengalami suatu kepuasan dan dipenuhi rasa syukur, terharu dan terima kasih bahwa saya bisa melewati tahap yang penuh ketegangan dan perjuangan itu walaupun dengan modal yang sangat kecil, lalu ini juga pengalaman pertamakali tampil dalam pencalegan. Kepercayaan diri juga  saya rasakan makin meningkat setelah pencalonan tersebut.Pada saat menulis ini, saya sempat berandai-andai, kalau saat itu saya takut mengambil kepercayaan itu, bagaimana jadinya…(itulah sebabnya, saya tidak mau takut mencoba. tidak mau ada penyesalan-penyesalan di kemudian hari.)

Sahabat, dalam hidup kita, resiko pasti selalu ada. Malah dapat dikatakan, seluruh kehidupan kita dipenuhi dengan resiko. Setiap hari kita pasti mengalami. Bepergian dengan kendaraan pribadi, naik bis kota, atau berjalan kaki ke tempat kerja, sekolah, selalu ada kemungkinan resiko mendapat kecelakaan. Setiap hari kita pergi tidur, ada resiko tidak bangun lagi. Meski demikian, kita terus menjalani dan melakukanya.

Demikian juga seorang pemimpin. Tanpa keberanian mengambil resiko, bisa kehilangan peluang terbuka di depan yang tidak diketahuinya, organisasinya tidak beranjak maju, stagnan. Menghindari resiko berarti kita kehilangan kesempatan untuk belajar, berubah, dan bertumbuh.Max de Pree, mengingatkan kita bahwa”dengan menghindari resiko maka kita sebenarnya mempertaruhkan apa yang terpenting dalam kehidupan:pencapaian menuju pertumbuhan, potensi kita, dan kontribusi sebenarnya kepada suatu tujuan umum.

Semoga catatan singkat ini menginspirasi siapa saja yang terbuka untuk selalu mau belajar dan mendorongnya berani mengambil segala resiko besar atau kecil yang dating silih berganti dalam hidup. Terima kasih…

Sumber: Edukasi Kompasiana

Leave A Response

Rimons twitter widget by Rimon Habib