Berani Ambil Risiko, Orang Sukses Sesungguhnya

August 31, 2013 No Comments »
Berani Ambil Risiko, Orang Sukses Sesungguhnya

“Orang yang berani mengambil risiko adalah mereka yang berusaha untuk menjaga semangat dalam dirinya ketika melalui proses dan menikmati hasil usahanya. Artinya, orang berhasil bukan sekadar karena melalui tahap pencapaiannya, tapi juga siap menerima resiko yang timbul. Merekalah orang sukses yang sesungguhnya.” Begitulah, sebuah kutipan dari penulis buku motivasi.

Dan bisa jadi Tarkiyat, SE adalah salah satunya. Kepala Cabang Balqis Magelang ini terbilang sukses memimpin perusahaan distributor alat rumah tangga Balqis Pot. Meski ia sendiri enggan disebut pemimpin yang berhasil.

“Apa yang kami capai sekarang bukan semata karena saya. Tapi komitmen semua karyawan, termasuk sales, koordinator dan karyawan yang tak terjun langsung ke lapangan. Semua bahu membahu.” Tapi, diakui atau tidak, gaya kepemimpinannya mampu memotivasi karyawan untuk bekerja lebih gigih.

Tentu, perusahaan yang digawanginya sekarang tidak langsung berkembang pesat. Pada awalnya pun, ada kesulitan-kesulitan yang ditemui. Apalagi pria kelahiran Trenggalek, 33 tahun lalu  ini bukan putra daerah yang hafal seluk beluk Bumi Tidar.

Tapi semangatnya yang luar biasa patut diacungi jempol. Peta kota Magelang dan sekitarnya pun dipampang di ruang kerjanya dan ruang meeting. Ia pantengi titik demi titik. Maka mulailah insting bisnisnya bekerja. Ia pelajari karakteristik daerahnya.  Ia petakan daerah mana saja yang potensial untuk memasarkan produknya. Apakah ia tak takut gagal?

“Seseorang perlu keberanian untuk mengambil suatu kesempatan yang beresiko. Misalnya, ketika Anda menginginkan suatu benda di dalam ruang tertutup, sementara kuncinya ada di sebelah rumah Anda. Jika Anda hanya berdiam diri, apakah Anda akan mendapatkannya? Jelas, tidak kan? Namun, kalau Anda keluar rumah, lalu menyeberang jalan yang ramai—meski resiko ditabrak mobil, motor dan semacamnya—kesempatan Anda untuk memiliki benda tersebut jelas ada,” katanya.

Ia juga memperhitungkan andai saja instingnya meleset. Kerugian apa yang akan didapatnya. Tapi ia punya plan B, yang akan meminimalisir resiko kerugian itu.

Ibaratnya, kita punya resiko untuk bertabrak mobil dan motor ketika menyeberang jalan, tapi sudah sepantasnya kita melihat ke kiri dan ke kanan sebelum menyeberang sehingga persentase tertabrak mobil pun menjadi lebih kecil.

Berbaik sangka pada Allah

Pria penghobi baca ini sadar, di luar sana ada banyak kompetitor.  Lalu, bagaimana  strategi bisnisnya?

“Strategi memang berpengaruh besar terhadap keberlangsungan sebuah bisnis, bisnis apapun itu. Tapi buat saya, yang penting melakukan usaha yang halal dan baik, jujur dan amanah, menjaga hubungan baik dengan karyawan dan pelanggan, membangun serta mengembangkan jaringan dan melakukan persaingan yang sehat dengan para kompetitor,” jelasnya. Begitulah ia memegang prinsip keusahawanan Islam.

Dalam rangka mengembangkan jaringan itulah, Tarkiyat kemudian membuka pos Balqis Cabang Magelang di Kendal dan Wonosobo. Lagi-lagi, itupun bukan langkah yang gampang.
Tapi, memulai sebuah usaha memang tak ada yang  gampang kan?

“Dalam berbisnis pun, kita harus berbaik sangka kepada Allah. Termasuk takdir buruk. Bagi siapapun yang ingin menggapai impiannya, jika dia berani berikhtiar, maka dia mesti yakin  bahwa ikhtiarnya benar-benar berada dalam ridho Allah. Ini akan membuat kita bersemangat,” katanya.

Ia menambahkan, bahwa kesuksesan itu selalu punya proses.

“Orang hidup saja melalui proses. Dilahirkan, dan begitu seterusnya. Begitu juga orang mati, dia mesti melalui sakaratul maut. Hampir tak ada yang mendapatkan kesuksesan tanpa usaha serta tantangan di dalamnya.” Jika toh langkah-langkah yang sudah dilakukan mengalami kendala, itu pertanda usaha  tersebut butuh langkah-langkah baru yang lebih kreatif dan fleksibel.

Ayah tiga putra ini percaya, bahwa semua beresiko. Memiliki impian memang  gratis, tapi menjadikannya sebagai sesuatu yang nyata atau mewujudkannya, butuh kerja keras dan beresiko tinggi. Resiko membangun bisnis adalah bangkrut atau rugi, resiko menjadi pemimpin adalah dicela, resiko menjadi orang kaya adalah kemiskinan, resiko menjadi orang jujur adalah ’diasingkan’. Begitu seterusnya.

Dengan kesadaran itu, seseorang akan matang secara psikologis. Sehingga berusaha sejak dini untuk mencari solusi dari kemungkinan-kemungkinan yang terjadi ke depan.
“Dibalik segala resiko itu, saya juga percaya ada peluang. Jika saya sudah berusaha maksimal, tapi menghasilkan sesuatu yang belum memuaskan, itu sebuah pelajaran bahwa saya mesti menata kembali langkah-langkah sebelumnya.”

Tarkiyat meyakini, kesuksesan itu tak harus selalu berupa materi berlimpah. Menurutnya, orang yang sukses adalah dia yang siap menerima hasil akhir usaha maksimalnya. Apapun impiannya, jika dilalui dengan langkah-langkah terbaik dan sungguh-sungguh, apapun hasilnya, itu adalah keberhasilan.

Sumber: Majalah-lifestyle

Leave A Response

Rimons twitter widget by Rimon Habib